Matchadreamy

Telaga Kumpe: Keindahan Alam Tersembunyi di Banyumas

Fitri Apriyani
Fitri Apriyani
Akhirnya saya dan suami dapat menyempatkan diri berwisata bersama para adik sepupu ke Telaga Kumpe di Banyumas. Yuk, intip keseruan perjalanan kami.

Dua hari berlalu sejak hajat kami mudik ke Cilacap selesai, yaitu menghadiri resepsi pernikahan adik ipar, saya baru berani mengutarakan keinginan untuk mengunjungi tempat wisata kepada suami. Dia setuju, karena memang sebelum berangkat ke Cilacap, kami sudah sepakat untuk menyempatkan diri berwisata. Setelah menimbang dan berdiskusi cukup lama, Telaga Kumpe di Banyumas menjadi pilihan tujuan wisata kami.

Kami turut mengajak dua adik ipar perempuan (Intan dan Kanti) serta dua sepupu ipar laki-laki (Kholiq dan Aji) dengan mengendarai mobil milik mertua. Berangkat kira-kira pukul 10.00 dari Cilacap untuk terlebih dahulu menuju Purwokerto. Tujuannya agar memudahkan kami menemukan lokasi Telaga Kumpe ini.

Baca Juga : Mudik dengan Kereta Api di Tengah Pandemi

MEDAN JALAN MENUJU TELAGA KUMPE

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Purwokerto, kami mulai memasuki wilayah pedesaan dengan pepohonan rindang. Medan jalan yang kami lalui pun mulai menantang; menanjak dan menurun cukup curam. Namun itu belum apa-apa sampai kami semakin dekat dengan lokasi telaga.

Jalan yang kami lalui semakin bergelombang dan menanjak tajam. Hanya ada jurang dengan pepohonan lebat di sepanjang jalan. Tidak ada mobil lain yang kami temui selain mobil kami.

Jalan yang kami lewati pun semakin sempit, seperti hanya cukup untuk satu mobil saja. Kami sempat khawatir kalau-kalau akan ada kendaraan yang datang dari arah berlawanan, dan mengantisipasinya dengan rajin menekan klakson di setiap tikungan. Hanya ada satu angkot yang kami temui, kami kemudian harus mengalah dengan sedikit menepikan mobil kami dari jalan.

Kami mulai ragu dengan perjalanan ini. Selain kondisi jalan yang semakin tidak memadai, mobil yang kami tumpangi juga sempat berbau asap menandakan mesinnya aus. Suami berinisiatif mengajak Kholiq untuk berjalan kaki memastikan kondisi jalan, dan apakah lokasi Telaga Kumpe masih jauh atau tidak. Alangkah leganya kami saat tahu lokasinya masih hanya beberapa meter lagi di depan kami.

Baca Juga : Mampir ke Benteng Pendem Cilacap : Seseram Apa?

TELAGA KUMPE YANG CANTIK

Segala ‘kehorroran’ perjalanan kami tadi seakan terbayar dengan bentangan telaga di depan mata kami. Air telaga yang tenang dan jernih memantulkan bayangan pepohonanan yang berbaris rapih di sekelilingnya.

Membuat mata seperti enggan berkedip menatap kecantikan alam ini. Semilir angin sejuk menerpa wajah kami, semakin menambah syahdu suasana kala itu. Tiada ada bau asap kendaraan, tidak ada suara bising, hanya kami dan alam. Masya Allah.

Kami segera memanfaatkan spot foto berupa jembatan dari bambu yang menuju ke tengah telaga untuk berselfie ria sembari menikmati suguhan pemandangan alam indah Telaga Kumpe di Banyumas.

NAIK SAMPAN MENGELILINGI TELAGA

Di tepi telaga tidak jauh dari sana, terdapat beberapa sampan yang tertambat, untuk disewakan kepada pengunjung yang ingin menjelejahi telaga. Tadinya Kanti hanya meminta untuk bisa selfie di atas sampan, kemudian aku pikir, kenapa tidak sekalian kita coba naik dan berlayar mumpung lagi di sini.

Yang bertugas mendayung tentu saja para pria, kami kaum hawwa hanya perlu duduk manis menikmati pemandangan sekaligus merekam dan mengambil foto, hehe.

Kami terus cekikikan mengetahui laju sampan yang tidak terarah, hanya berkutat di tempat yang sama dan maju beberapa meter saja. Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk sampai ke tengah telaga. Maklum saja, karena para pria ini bisa dibilang pendayung amatir.

Namun saya sangat menikmati momen di atas sampan. Menatap suguhan alam di depan mata, mendengar suara gemericik air dan kicauan burung, menghirup sedalam-dalamnya udara bersih yang jarang saya dapatkan di Jakarta. Seraya terus berdzikir memiju Sang Pencipta alam ini, masya Allah.

Langit sudah semakin mendung, kami pun menepi untuk kemudian makan siang dengan bekal yang kami bawa dari rumah.

Baca Juga : Menikmati Gemiricik Air Sungai di Ledok Sambi, Yogyakarta

INFO TAMBAHAN

Lokasi : Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Harga Tiket Masuk : Rp 5.000/orang

Tarif naik sampan : Rp 5.000/orang

Fasilitas : toilet umum, parkir kendaraan. Untuk mushola saya kurang tahu, karena saat itu kami menjama’ takhir sholat.

 

 

About The Author

Fitri Apriyani

You may also like