TRAVEL

Cerita Naik MRT Jakarta Saat Pandemi

“Kita ajak naik MRT aja, yuk!” usulku pada suami saat mengetahui adik ipar akan datang menginap di kediaman kami pada momen bulan puasa kemarin. Aku rasa mengajaknya naik MRT Jakarta akan jadi pengalaman yang menarik baginya.

Karena, jangankan warga dari luar, warga asli Jakarta pun aku rasa tidak semuanya pernah naik moda transportasi berteknologi canggih ini. Jadi pasti akan menyenangkan pikirku.

Aku sendiri sebenarnya sudah pernah sekali menjajal naik MRT pada tahun 2019 lalu. Dari pengalaman pertamaku tersebut, aku merasa sangat excited dan bisa dibilang ‘norak’. Jadi aku akan dengan senang hati mengajak orang lain, agar mengalami apa yang aku rasakan.

Singkat cerita, kami akan naik MRT Jakarta pada weekend dengan rute Stasiun MRT Bundaran HI – Lebak Bulus. Tarif sekali jalan Rp14.000, kalau pulang pergi total Rp28.000/orang. Oke, aku langsung top up aja kartu MRT-nya biar gak ribet pas di jalan.

Begini Kisahku Naik MRT Jakarta

Menuju Stasiun MRT Terdekat Dulu, Dimana Tuh?

Pertama, yang pasti kami harus ke stasiun MRT terdekat dulu untuk naik MRT. Kediaman kami terletak di Jakarta Barat, berarti stasiun terdekat–sebenarnya gak deket banget juga sih–adalah Stasiun MRT Bundaran HI.

Nah, untuk ke sana kami bertiga naik bus TransJakarta dari Halte Grogol. Kami transit sekali di Halte Harmoni untuk ganti bus yang langsung berhenti di Halte Bundaran HI.

Saat itu lagi momen bulan puasa dan weekend, sehingga keadaan di dalam Busway lumayan sepi walaupun kami sempat harus berdiri beberapa lama, karena kursinya penuh semua.

Bersyukur juga saat itu kondisi lalu lintas juga sangat lancar, tidak macet sama sekali. Waktu perjalanan kami pun tidak terlalu lama.

Stasiun MRT Bundaran HI Ada di Bawah Tanah?

Yak, sampai di Halte Busway Bundaran HI, kami langung turun ke bawah tanah. Hah, kok bawah tanah sih? Kamu gak salah baca kok. Stasiun MRT Bundaran HI memang termasuk stasiun underground alias berada di bawah tanah. Tepatnya berada di bawah si Halte Busway Bundaran HI.

Cukup memudahkan buat yang mau naik MRT, karena baik halte dan stasiun MRT berada di lokasi yang sama. Bagi calon penumpang tidak perlu tanya-tanya lagi, karena pintu masuk ke stasiun MRT-nya terlihat jelas, juga terdapat petunjuk tulisan.

Setelah menuruni anak tangga yang lumayan banyak dan melelahkan, sampai lah kami di perbatasan (sebut saja begitu ya, hehe) antara Halte dan Stasiun Bundaran HI.

Perbatasan ini berupa gate seperti saat akan naik busway. Di sini kita harus melakukan tapping kartu yang kita gunakan untuk naik busway tadi. Semacam check out gitu.

Setelah itu, barulah kami sampai di area Stasiun MRT Jakarta.

Stasiun MRT Bundaran HI Jakarta

Menuju pintu masuk Stasiun MRT Bundaran HI

Bener kan, walaupun aku sudah pernah ke sini sebelumnya, aku tetep merasa excited karena vibe saat masuk area stasiun ini tuh seperti berada di Jepang saking modern, nyaman dan bersihnya.

Meskipun kami belum naik MRT, tapi udaranya sangat sejuk dan cenderung dingin dari AC yang ada.

Baca Juga : Alternatif Weekend di Jakarta, Gak Harus ke Mall!

Balada Saldo Tidak Cukup, Duh!

Sebelum naik MRT, kami diharuskan melakukan tapping kartu e-money agar bisa melewati gate yang ada. Anggaplah ini seperti karcis masuk naik MRT, tapi berupa uang elektronik.

Stasiun MRT Bundaran HI

Penumpang yang akan naik MRT harus tap kartu elektronik

Dan, balada itu pun dimulai, ternyata saldo di kartu kami tidak cukup! Hadeh.

Aku sempat panik, karena aku yakin banget kalau aku sudah top up tadi sebelum berangkat via m-banking. Bukti top up-nya pun ada. Yang anehnya, tampak di layar gate tadi saldo kami sangat minim. Terus uang top up tadi kemana dong?

“Gimana nih, beb? Aku yakin kok tadi udah top up pas di rumah,” ujarku pada suami.

“Yaudah, kita top up lagi aja deh,” jawab suami menenangkan.

Bukan apa-apa. Karena nominal minimal top up masing-masing kartu adalah Rp50.000. Sedangkan satu kartu hanya berlaku untuk satu orang.

Sedangkan sebelumnya aku sudah top up untuk bertiga, kalau harus top up lagi, total jadi Rp300.000 dong? Lumayan gak sih jumlahnya?

Apalagi kami sangat jarang naik busway/MRT, sehingga sisa saldonya nanti akan jadi mengendap dan tidak terpakai. Duh!

“Oke deh. Aku top up lagi aja,” ujarku kemudian setelah beberapa saat.

Ya, gak mungkin juga kan kami balik lagi ke rumah, secara udah sampai sini. Lagian kasihan juga sama Kanti, adik iparku.

Oalah!

Kami pun menuju sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari gate untuk top up. Saat akan ditopup, pertama kartu kami ditap dulu oleh petugas kasir pada semacam mesin EDC.

“Mbak, ini barusan ada notif saldo masuk. Jumlah saldonya ada Rp50.000. Masih tetap mau top up?” tanya si mbak kasir.

“Oh saldonya baru masuk ya mbak? Gak jadi top up deh mbak,” jawabku senang.

Oalah, jadi setelah top up via m-banking kartu kami harus ditap dulu ke mesin EDC supaya saldonya masuk. Aku juga kurang paham sih kenapa bisa begitu. Mungkin sebaiknya top up langsung di kasir aja kali ya?

Pokoknya, Alhamdulillah jadi uang yang buat top up tadi ternyata tidak hangus.

Kami pun langsung melenggang ke gate untuk sekali lagi melakukan melakukan tapping kartu MRT kami dan berhasil!

All Abroad to MRT!

Urusan tiket udah kelar. Kami pun langsung turun ke bawah lagi untuk naik MRT-nya. Jadi dari halte busway tadi kami sudah turun, nah ini harus turun lebih dalam lagi. Wow!

Kebetulan saat itu, MRT-nya belum tiba (karena belum jadwalnya juga sih). Tidak mau ketinggalan momen, aku pun langsung ‘jepret’ sana sini.

Naik MRT Jakarta

Turun dari tangga, kami langsung tiba di peron untuk menunggu MRT

Peron MRT Jakarta

Menunggu kedatangan MRT di peron

Tidak perlu menunggu lama, MRT yang kami tunggu pun datang. Yeay! Kami langsung masuk dan ambil posisi duduk.

Naik MRT Jakarta

Cheers di bangku penumpang

Kondisi di dalam MRT Jakarta pada saat weekend ini termasuk lengang, karena tidak ada pekerja kantoran yang biasa menggunakan transportasi ini untuk pulang dan pergi bekerja. Bangku-bangku juga banyak yang kosong.

Suasana Naik MRT Jakarta

Suasana di bagian dalam MRT Jakarta tampak lengang saat weekend

Aturan Naik MRT Selama Pandemi

Tidak seperti waktu pertama kali aku naik MRT di 2019, kali ini ada beberapa aturan yang harus dipatuhi nih saat naik MRT Jakarta di masa pandemi, yaitu:

  • Wajib memakai masker
  • Memakai hand sanitizer yang disediakan
  • Menjaga jarak
  • Sebelum masuk dicek suhu tubuh oleh petugas
  • Tidak boleh berbicara baik satu arah maupun dua arah saat di dalam MRT

Pada poin tiga, yaitu menjaga jarak, penumpang tidak diperkenankan duduk bergerumun. Bangku penumpang pada MRT diberi tanda X yang mengisyaratkan bahwa bangku tersebut tidak boleh diduduki. Juga untuk memberi jarak antarpenumpang.

Naik MRT Jakarta

Tanda X pada bangku penumpang untuk social distancing

Sedangkan pada poin 5, penumpang tidak boleh atau dilarang melakukan komunikasi, dalam hal ini berbicara, baik secara satu arah (menelpon, melakukan video call, dll) maupun dua arah (berbicara dengan penumpang lain).

Aturan ini lumayan ketat. Waktu itu aku sempat ditegur secara baik-baik oleh petugas, karena kelupaan bicara kepada adik iparku untuk meminta memfoto aku dan suami. Kata beliau, berfoto boleh, tapi jangan berbicara.

Kami pun mengangguk patuh. Aku cukup mengapresiasi tindakan ini. Sebab bagaimana pun kita harus berupaya mencegah penularan virus corona, bahkan dengan hal kecil sekali pun.

Baca Juga : Staycation di Hotel Ciputra Jakarta, Tak Perlu ke Luar Kota

Transportasi Nyaman Bonus Pemandangan

Tak lama, MRT pun berangkat sesuai jadwal yang ada. Si transportasi modern ini melesat cukup kencang di bawah tanah ibukota. Bergerak dari satu stasiun ke stasiun berikutnya.

Walaupun ‘larinya’ kencang, MRT tidak menimbulkan suara bising serta guncangan sama sekali. Sehingga penumpang di dalamnya pun sangat merasa nyaman.

Selama MRT melewati jalur undeground, tidak banyak yang bisa kami lihat selain stasiun yang kami singgahi dan tembok konstruksi terowongan. Saat melewati terowongan, kondisi cenderung lebih gelap. Tapi saya justru suka sekali karena terkesan lebih adem aja.

FYI, tidak semua stasiun  dan jalur MRT berada di bawah tanah atau underground. Ada juga beberapa yang ‘melayang’, berada di atas dengan ketinggian tertentu.

Stasiun MRT underground adalah Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, dan Senayan, Istora. Sedangkan stasiun MRT layang adalah Sisingamangaraja, Blok M, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan Lebak Bulus (Sumber : Indoesia Baik).

Nah, saat sudah naik ke jalur layang, kondisi mulai terang bahkan terik oleh matahari. Namun, saat itulah kami jadi bisa melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian. Sensasi melihat gedung-gedung dan perumahan Jakarta di bawah sana, bagiku sangat menarik dan berkesan. Maklum aku norak, hehe.

Tiba di Lebak Bulus dengan Mulus

Kami tiba di Stasiun Lebak Bulus kira-kira dalam waktu 30 menit. Tentunya lebih cepat daripada naik moda transportasi lainnya. Karena kami memang tidak tujuan kemana-mana, jadilah kami di stasiun ini hanya singgah, melihat-lihat sekitar, serta tidak lupa berfoto ria, hehe.

Aku juga sempat mengabadikan momen saat MRT Jakarta putar balik di stasiun ini, untuk kembali lagi ke Stasiun bundaran HI.

 

Sudah puas, kami pun bergegas untuk pulang dengan MRT Jakarta rute Stasiun Lebak Bulus – Bundaran HI.

Baca Juga : Indahnya Pemandangan Sungai di Ledok Sambi Yogyakarta

Tips Sebelum Naik MRT Jakarta

Walaupun hanya akan naik MRT, tapi ada baiknya mempersiapkan hal-hal berikut agar lebih memudahkan dan menghindari keribetan saat di jalan nantinya. Namun, buat kamu yang memang mobilitas sehari-harinya menggunakan MRT, tips ini bisa diskip ya.

Tentukan tujuan perjalanan

Sebelum berangkat, tentukan dulu tujuan perjalananmu, kemudian cari tahu stasiun terdekat dari tujuanmu. Misal, kamu ingin ke Blok M Plaza, maka kamu bisa berhenti di Stasiun Blok M.

Cari info lengkap

Pastikan kamu sudah memiliki info lengkap tentang hal berikut.

  • Rute perjalanan MRT
  • Stasiun MRT
  • Moda transportasi menuju stasiun MRT dan tujuan akhir

Siapkan e-money dengan saldo cukup

Poin ini jangan sampai lupa ya. Kalau mau top up, saranku mending melalui kasir minimarket yang menggunakan mesin EDC, jadi kejadian yang aku ceritain di atas.

Oiya, kartu elektronik yang berlaku untuk naik MRT, hanya kartu dari keluaran bank tertentu ya. Jadi gak semua kartu bisa berlaku di stasiun MRT. Di antara kartu elektronik yang berlaku adalah E-money Mandiri, Tap Cash BNI, BRIZZI, Jak Card, Jak Lingko, dll.

Penutup

Oke, sekian celotehanku tentang pengalaman naik MRT Jakarta saat pandemi. Semoga bermanfaat buat kamu yang mau mencoba naik MRT juga. Terima kasih sudah mampir. 🙂

 

3 Comments

  1. Avatar Isa 21/08/2021
  2. Fitri Apriyani Fitri Apriyani 23/08/2021
  3. Avatar Fanny_dcatqueen 24/08/2021

Leave a Reply